Firna Larasanti, Anak Pemulung Jadi Lulusan Terbaik Unnes

Indonesia Hebat

Firna Larasanti, Anak Pemulung Jadi Lulusan Terbaik Unnes

Gadis Cantik Anak Pemulung Jadi Lulusan Terbaik Unnes

7uplagi.com – Seorang gadis cantik anak pemulung di Kota Semarang Jawa Tengah menjadi lulusan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Keharusan berkutat dengan sampah dan botol-botol bekas setiap hari tak membuatnya minder dan terus memacu prestasi.

Dia bernama Firna Larasanti. Gadis berusia 22 tahun itu tak terlihat canggung memilah sampah dan botol-botol bekas untuk dimasukkan ke karung di halaman rumahnya di Kelurahan Sumurrejo Kecamatan Gunungpati. Dia membantu kedua orangtuanya yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung.

Tangannya terlihat lincah bergerak sambil memilah botol-botol. Sesekali tangan kirinya membetulkan ujung kerudung yang agak mendekati mata karena terlalu lama menunduk. Tatapan matanya terlihat lembut sambil berbincang dengan suara kalem dengan kedua orangtuanya.

“Ya tiap hari harus mengumpulkan botol-botol bekas seperti ini. Botolnya kita kumpulkan sesuai dengan warna, kalau bening dicampur bening, lha kalau di sebelah sana itu untuk yang berwarna biru, dan di sana lagi untuk hijau,” ujar Firna, sebelum berangkat ke Kampus Unnes untuk mengikuti wisuda, Rabu (27/7/2016).

Gadis berkerudung anak pasangan Misiyanto dan Siti Suwanti itu merupakan salah satu lulusan terbaik yang akan diwisuda menjadi sarjana. Mahasiswi Jurusan Ilmu Politik dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes itu mendapatkan IPK 3,77 dengan predikat cum laude.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu menyelesaikan pendidikannya selama tiga tahun 10 bulan. Bukan perkara mudah mengenyam pendidikan tinggi di kampus, karena harus membagi waktu antara belajar dan bekerja untuk membantu orangtuanya. Apalagi, beasiswa Bidikmisi baru diperolehnya ketika memasuki semester kedua.

“Saya enggak gengsi atau minder sama sekali. Bagi saya, orangtua adalah segalanya, tidak bisa dibandingkan dengan uang atau materi. Meski pekerjaannya seperti itu tapi mereka tetap mendukung saya hingga lulus. Itulah kehebatan orangtua saya,” kata Firna sambil mengusap lembut tangan ibunya.

Selain memulung sampah, dia pun harus memutar otak agar bisa membantu perekonomian keluarganya. Bekerja sebagai penjaga toko dan pelayan rumah makan pernah dilakoninya agar dapat membeli buku atau mengerjakan tugas kuliah. Sebab, penghasilan memulung orangtuanya kerap kali habis untuk biaya makan sehari-hari.

“Bekerja sebagai pemulung kan hasilnya tidak pasti, apalagi sekarang semua harga barang telah naik. Sementara penjualan memulung itu harganya sering turun, makanya saya juga harus bekerja keras. Saya pernah menjadi tenaga survei-survei, bekerja paruh waktu, apa aja saya lalukan asal halal,” tukasnya bersemangat.

Firna mengaku, gelar sarjana bukan menjadi akhir baginya untuk menuntut ilmu. Dia ingin melanjutkan pendidikan ke National University of Singapore (NUS) jika kelak memndapatkan beasiswa. Gadis cantik itu ingin memperdalam ilmu politik, agar bisa menjadi politikus yang santun dan memperbaiki taraf hidup keluarganya.

“Politik itu seru, makanya saya ingin tahu lebih dalam lagi. Kemarin saya sudah ikut tes TOEFL, semoga saja nanti bisa lolos dan kuliah di Singapura. Semoga saja bisa segera mengangkat derajat orangtua saya, bisa membuat mereka bahagia dan bangga,” katanya mantap.

Ibundanya, Siti Suwanti, menambahkan, semula dia agak ragu ketika anak perempuannya itu mengatakan ingin melanjutkan kuliah di Unnes. Dia sadar, penghasilannya tak bakal cukup untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi terkemuka di Kota Semarang itu.

“Awalnya ya ragu, tapi melihat anak saya sangat semangat, maka saya tidak bisa berbuat banyak selain mendukungnya. Saya pasrahkan semua pada Allah, saya yakin bakal ada jalan rezeki baginya. Memang pekerjaan saya hanya mulung, tapi anak-anak harus berhasil, harus lebih baik daripada orangtuanya,” katanya lirih dengan mata sembab.

Dia dan suami yang telah menjadi pemulung sampah sejak 1993 mengaku tak punya pilihan untuk beralih profesi. Namun, Suwanti tak pernah patah arang. Jika pekerjaan memulung sampah sepi, dia mencari tambahan penghasilan dengan menjadi buruh cuci di tetangga.

“Kalau hasil dari mulung kan ini enggak besar, enggak pasti juga hasilnya. Kalau dirata-rata mungkin sekira Rp50 ribu per hari. Uang segitu kalau sekarang kan cepat habis, buat belanja, buat makan langsung habis. Lha untuk biaya kuliah anak, makanya harus ada tambahan penghasilan,” bebernya.

Sementara itu, pihak Kampus Unnes menyatakan, akan memfasilitasi keinginan Firna yang ingin melanjutkan pendidikan pascasarjana. Firna merupakan salah satu mahasiswa yang akan diwisuda hari ini oleh Rektor Unnes, Fathur Rokhman, bersama sekira 1.460 mahasiswa berbagai jurusan.

“Firna ini adalah contoh yang luar biasa, karena biasanya kemiskinan dan prestasi itu beriringan, tapi ternyata tidak. Dia berhasil membuktikan jika kemiskinan bukan menjadi penghalang untuk menggapai prestasi. Dia bisa mendapatkan IPK 3,77, menempati peringkat kedua di jurusan dan keempat di fakultas. Jelas Unnes sangat bangga dan akan memfasilitasi keinginannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan,” jelas Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama.

To Top