KPK Periksa Wakil Ketua PN Medan Terkait Suap Hakim

News

KPK Periksa Wakil Ketua PN Medan Terkait Suap Hakim

KPK Periksa Wakil Ketua PN Medan Terkait Suap Hakim

7uplagi.com -KPK Periksa Wakil Ketua PN Medan Terkait Suap Hakim

KPK Periksa Wakil Ketua PN Medan Terkait Suap Hakim

Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Medan Wahyu Prasetyo Wibowo di panggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkaitan masalah pemulusan masalah tindak pidana korupsi di PN Medan. Wahyu akan dicheck menjadi saksi dalam masalah ini.

“Saksi Wahyu Prasetyo Wibowo akan dicheck untuk terduga TS (Tamin Sukardi),” tutur Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat di konfirmasi, Kamis (13/9).

Wahyu sendiri merupakan salah satunya hakim dalam masalah korupsi dengan terdakwa Tamin Sukardi di PN Medan. Wahyu sempat juga turut terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Selasa 28 Agustus 2018. Akan tetapi dilepaskan karena dipandang belumlah kecukupan bukti keterlibatannya dalam suap pemulusan masalah korupsi Tamin.

Tidak cuma Wahyu, penyidik KPK juga menjadwalkan kontrol saksi yang lain yaitu, Hakim PN Medan, Sontan Merauke Sinaga; Karyawan Swasta PT Erni Putra Terari, Iwan; Panitera Alternatif pada PN Medan, Oloan Sirait; pengacara Farida; serta staf terduga Merry Purba yang bernama Winda Ambor BR Gultom.

“Mereka juga akan dicheck menjadi saksi untuk terduga TS,” kata Febri.

Dalam masalah ini KPK mengambil keputusan Hakim Ad Hoc Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan Merry Purba menjadi terduga masalah pendapat penerimaan suap pemulusan masalah tindak pidana korupsi di PN Medan.
Tidak hanya Merry Purba, KPK juga mengambil keputusan tiga orang yang lain menjadi terduga. Yaitu Helpandi sebagai panitera alternatif PN Medan, Tamin Sukardi sebagai pihak swasta serta Hadi Setiawan yang merupakan orang keyakinan Tamin.

Tamin yang merupakan terdakwa yang tengah diadili oleh Merry memberi SGD 280 ribu pada Merry untuk memengaruhi putusan masalah korupsi penjualan tanah asset negara.

Tamin divonis Merry pada 27 Agustus 2018 dengan hukuman 6 tahun penjara denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Walau sebenarnya jaksa menuntut Tamin hukuman 10 tahun penjara.

Komentar
To Top