Twitter jadikan Internet lebih ramah perempuan

Tekno

Twitter jadikan Internet lebih ramah perempuan

[ad_1]

Jakarta (7uplagi.com) – Twitter bersama Wahid Foundation dan Purple Code meluncurkan kampanye #PositionOfStrength di Indonesia untuk membuat Internet lebih ramah perempuan.

Inisiasi tersebut untuk memberdayakan perempuan di ranah dalam jaringan Internet (online) sekaligus mendidik bagaimana menggunakan Twitter sebagai platform untuk berani berpendapat dan berkomunikasi dengan tepat.

“Ini merupakan inisiasi Glokal, program global tapi juga lokal. Bagaimana perempuan bisa menyuarakan pendapat mereka di Twitter, tapi juga tidak melukai orang lain,” kata Public Policy Director Twitter Australia dan Asia Tenggara, Julie Imran Grant, di Jakarta, Jumat.

#PositionOfStrength akan diselenggarakan Sabtu besok (23/4). Acara yang telah digelar di sejumlah negara itu akan mengajarkan perempuan dalam menanggapi hal-hal negatif di media sosial secara positif.

Selain itu, ia mengemukakan, program tersebut memberi kesempatan kepada 25 perempuan untuk menyuarakan opininya dalam 140 detik dan karakter baca.

“Kami ingin perempuan saling menginspirasi,” ujar Julie.

Twitter juga memperkenalkan panduan keselamatan dan keamanan yang dapat membantu perempuan mendapatkan lingkungan yang lebih aman untuk dapat mengutarakan pendapat dan pemikiran mereka secara terbuka.

Menurut aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) Purple Code, Veronica, risiko mendapat tindak kekerasan lebih besar terjadi terhadap perempuan sehingga memerlukan gerakan (movement) nyata.

“Selain melakukan aksi konkret, sosial media biasa digunakan aktivis untuk movement. Namun, saat berkampanye sering kali komen yang masuk tidak sesuai dengan konten, justru cenderung seksual,” kata Vero.

“Acara ini memberikan ruang bagi perempuan untuk berani berbicara dan meningkatkan kapasitas bagaimana berkampanye secara aman,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid), yang melihat saat ini tindak kekerasan maupun digencet (bullying), pelecehan (harassment) dan diusili (troll) masih banyak menimpa perempuan, terutama gadis muda yang dalam usianya sangat peduli terhadap apa yang dikemukakannya, terlebih di media online.

“Kita tahu dalam dunia online perempuan masih sering menjadi korban bullying, harassment, troll. Harus ada sebuah upaya untuk memastikan dan menguatkan perempuan,” ujarnya

“Acara ini sebagai pengimbang. Kami ingin agar kampanye ini bisa semakin luas untuk memperjuangkan kesetaraan gender, terutama di dunia online,” demikian Yenny Wahid.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2016

[ad_2]

Komentar
To Top