Dunia

Aplikasi Medsos Clubhouse Dilarang di China Karena Bahas Politik

Netizen di China berbondong-bondong mengakses aplikasi media sosial Clubhouse yang sedang viral, untuk membicarakan topik-topik terlarang.

Beberapa topik yang dibahas antara lain penahanan massal warga Uighur, demo pro-demokrasi di Hong Kong, dan kemerdekaan Taiwan.

Sebagai negara otoriter, China menerapkan pengawasan ketat dan canggih terhadap para warganya di internet, dan melarang mereka memakai media sosial internasional seperti Facebook dan Twitter.

Namun, sementara ini Clubhouse yang sedang viral usai dipopulerkan Elon Musk di YouTube-nya, tampaknya lolos dari sensor.

Clubhouse adalah media sosial buatan Amerika Serikat (AS) yang berbasis audio. Aplikasi itu memfasilitasi penggunanya bercakap langsung secara digital memakai suara.

Kemudian dalam beberapa hari terakhir, warganet China menyerbu berbagai ruang obrolan yang membahas topik-topik terlarang.

“Seorang wanita muda dari China daratan baru saja berkata di Clubhouse: ini pertama kalinya saya mengakses internet yang sebenarnya,” twit Isabelle Niu jurnalis yang mendengarkan percakapan itu, pada Minggu (7/2/2021).

Clubhouse tidak bisa diakses secara langsung oleh pengunduhnya. Pengguna harus mendapat invitasi dulu dari pengguna lain untuk membukanya.

Invitasi itu secara gelap dijual di marketplace Taobao dan situs-situs e-commerce lainnya. Harganya berkisar 10-100 yuan (Rp 21.700-217.000).

Clubhouse diluncurkan pada Mei tahun lalu dan saat ini hanya bisa diunduh di perangkat Apple, gawai yang hanya mampu dibeli orang-orang kaya “Negeri Panda”.

Kaiser Kuo pembawa acara Sinica Podcast yang berfokus pada China, men-twit beberapa obrolan di sebuah room yang membahas situasi Uighur.

Dari percakapan itu ia menceritakan, Han sebagai kelompok etnis dominan di China dan orang-orang di komunitas Uighur saling berinteraksi.

“Tanggapan seorang pria Uighur yang meyakinkan wanita ini bahwa kita adalah teman, dan kekejaman ini membuat kebutuhan akan persahabatan menjadi lebih penting,” kicaunya di Twitter.

Jurnalis AFP juga mendengar seseorang berbicara di room dan mengidentifikasi dirinya sebagai orang China.

Dia menyatakan penentangannya terhadap “kamp konsenstrasi” meski mengakui keberadaan fasilitas itu.

Contoh lain, seorang netizen berkata dia percaya dengan beberapa penelitian di Barat tentang kamp-kamp penahanan Uighur, tetapi merasa jumlahnya mungkin dibesar-besarkan.

Pada Senin (8/2/2021) AFP turut mendengarkan percakapan dari diaspora China serta orang di Beijing, yang membahas apakah aplikasi itu akan segera diblokir pemerintahan Xi Jinping.

Para analis pun sependapat, dengan memperingatkan kemungkinan China akan segera memblokir akses ke media sosial Clubhouse.

To Top