Nasional

Dikejar Waktu 'Kopi Mirna', Polisi Disarankan Pakai Tim Kasus Munir

[ad_1]

7uplagi.com – Posisi Polda Metro Jaya seperti di ujung tanduk, dalam menuntaskan kasus Jessica yang dituduh membunuh Mirna, dengan cara memberi racun sianida ke dalam kopi Vietnam yang diminum korban.

Menurut Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane, dengan batas waktu penanganan kasus tersebut yang tinggal 30 hari lagi, jika tidak bisa melengkapi bukti-bukti yang dituduhkan, polisi harus membebaskan Jesica dan harus siap-siap menghadapi gugatan keluarga Jesica.

“Kami mendesak Polda Metro Jaya agar bekerja lebih keras lagi menuntaskan kasus Jesica, sehingga kasusnya bisa P21 di Kejaksaan, untuk kemudian bisa segera diproses di pengadilan,” ujar Neta, Sabtu (23/4/2016).

Untuk itu, lanjut Neta, polisi perlu mengevaluasi kineranya dalam mengusut kasus kematian Mirna. Mulai dari proses pembuatan kopi Vietnam, pengantaran kopi ke meja tempat Jesica duduk, hingga Mirna keracunan setelah minum kopi Vietnam, perlu dievaluasi dan dicermati ulang. Dalam evaluasi itu perlu ditelusuri, apakah masih ada kelengahan polisi dalam mengamankan tempat kejadian perkara, apakah masih ada barang bukti yang belum diamankan penyidik, atau apakah masih ada saksi-saksi yang terlewatkan.

“Sebab sejauh ini, sepertinya polisi belum menemukan saksi kunci yang melihat Jesica menuangkan sesuatu ke gelas kopi Vietnam yang kemudian diminum Mirna, padahal di tempat itu cukup banyak orang lain. Inilah yang membuat kasus Jesica tak kunjung bisa di P21,” kata Neta.

Tentu sangat ironis, kata dia, jika kemudian Jesica dibebaskan demi hukum karena polisi tak kunjung bisa menuntaskan kasus ini. Padahal polisi pernah punya prestasi saat membongkar kasus kematian Munir yang diracun dengan arsenik dalam penerbangan ke Amsterdam. Jika melihat keberhasilan menuntaskan kasus Munir, sepertinya Polda Metro Jaya perlu meminta bantuan Tim Kasus Munir.

“Bagaimana pun polisi harus menuntaskan kasus Jesica, sehingga kordinasi perlu dilakukan untuk mendukungnya,” jelasnya.

Dalam mengungkap kasus Munir, sambung Neta, saat itu ada dua polisi yang menjadi ujung tombak di lapangan, yakni Anton Charlian (kini Kapolda Sulsel) dan Tommy Watiliu (kini Direskrimum Polda Kaltim). Mereka lah yang menemukan seorang wanita yang menjadi saksi kunci dalam kasus Munir, sehingga kasusnya bisa P21 dan bisa diajukan ke pengadilan.

“Sepertinya Polda Metro Jaya perlu meminta bantuan Tim Kasus Munir agar kematian Mirna bisa segera dituntaskan di pengadilan,” tukasnya.

[ad_2]

Comments
To Top