News

Jokowi Tidak Bisa Langsung Berikan Grasi Untuk Baiq Nuril

7uplagi.com – Jokowi Tidak Bisa Langsung Berikan Grasi Untuk Baiq Nuril

Jokowi Tidak Bisa Langsung Berikan Grasi Untuk Baiq Nuril

Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi SP menyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak dapat memberi grasi ataupun amnesti dengan cara langsung pada Baiq Nuril, terpidana masalah perekaman pembicaraan mesum. Faktanya, pemberian grasi mesti mendapatkan kesepakatan DPR, sedangkan grasi mempertimbangkan referensi Mahkamah Agung.

“Amnesti itu ada syaratnya, grasi itu ada syaratnya juga. Itu tidak menempel pada Pak Presiden bisa langsung memberi grasi, amnesti. Ada tahap-tahapannya, seperti amnesti itu mesti ada referensi atau bicara dengan DPR,” jelas Johan di Istana Kepresiden Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/11).

Johan mengatakan, Presiden mempersilakan Baiq Nuril untuk ajukan peninjauan kembali pada MA untuk mencari keadilan.

“Jika saat ini kan masih ada usaha hukum yang dapat dikerjakan ibu Nuril, usaha hukum mengagumkan. Itu peninjauan kembali. Kelak sesudah itu, baru prosesnya tuntas, domain dibawah Presiden,” katanya.

Awal mulanya, Jokowi buka ruangan buat Baiq Nuril untuk memberi pengampunan, jika hasil putusan PK di Mahkamah Agung (MA) tidak memuaskan.

“Kalau PK belumlah bisa keadilan, dapat kemukakan grasi ke presiden. Jika telah grasi itu sisi saya,” kata Jokowi di Pasar Induk Sidoharjo, Lamongan, Jawa Timur, Senin (19/11).

Pengakuan Jokowi memantik kritikan dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Fadli memandang perkataan Jokowi itu dapat membuat bangsa Indonesia malu.

“Jadi menurut saya pengakuan presiden ini memunculkan kita ya menjadi bangsa malu lah sebetulnya. Bagaimana dapat beberapa hal yang sifatnya fundamental saja dapat salah,” kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/11).

Wakil Ketua DPR ini membuka fakta kenapa perkataan Jokowi dapat membuat bangsa malu. Karena, katanya, grasi itu cuma dapat dikasihkan pada narapidana yang mempunyai waktu hukuman diatas dua tahun.

“Jika grasi kan hukumannya jika sesuai dengan undang-undang diatas dua tahun,” katanya.

Waktu melawan kasasi di Mahkamah Agung, Baiq Nuril divonis enam bulan penjara ditambah denda sejumlah Rp 500 juta. Ia diputus bersalah oleh Mahkamah Agung karena sebarkan rekaman bermuatan kesusilaan.

Comments
To Top