Nasional

Keberadaan Dirut RSUD NTB Masih Misteri, Penemu Akan Diberi Rp200 Juta

[ad_1]

7uplagi.com – Keberadaan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dr Mawardi Hamri yang sudah sekitar satu bulan sejak dilaporkan hilang pada 23 Maret 2016 dari rumah dinasnya di Jalan Langko 31 Kota Mataram, belum juga ditemukan.

Kabar hilangnya pejabat publik berusia 55 tahun asal Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur itu hingga sekarang masih menjadi “buah bibir” di masyarakat. Anak kelima dari 13 bersaudara tersebut, tanpa disangka-sangka sejak kepergiannya pada Rabu (23/03/2016) malam, belum juga pulang lagi ke rumahnya. Keberadaan dan nasibnya masih menjadi teka-teki.

“Pesan terakhir yang disampaikan kepada penjaga rumah, kalau dia akan pergi rapat. Jadi hilangnya dr Mawardi ini belum ada indikasi pidana yang mengarah pada upaya penculikan, karena dia pergi dalam keadaan sadar dan atas kemauan sendiri, tanpa ada paksaan,” kata Direktur Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda NTB AKBP Anom Wibowo dalam jumpa pers terkait hilangnya dr Mawardi, Rabu (19/04/2016).

Polisi dalam persoalan ini, dikatakannya serius menindaklanjuti laporan hilangnya Mawardi. Polda NTB membentuk tim pencarian yang dipimpin langsung oleh AKBP Anom Wibowo.

Anom mengakui bahwa tim pencarian telah mencoba berbagai upaya untuk mengetahui keberadaannya. Sudah jelas, pria berinisial An, penjaga rumah dinas Direktur RSUD Provinsi NTB, itu pun menjadi kunci dasar penyelidikan kepolisian.

“An ini orang yang pertama kali melaporkan ke polisi, dan dia sudah kami mintai keterangan atas kesaksiannya,” ujar Anom, alumni Akpol 1994 itu, yang belum lama ini menjabat Direktur Ditreskrimum Polda NTB.

Kronologi Mawardi seperti biasa, sekitar pukul 14.00 Wita, Direktur RSUD Provinsi NTB itu pulang ke rumah dinasnya di Jalan Langko, Nomor 31 Kota Mataram.

Belum sempat melepas penat dari kegiatan kantornya, dr Mawardi yang belum memiliki pendamping hidup itu sudah kedatangan tamu dari Lombok Timur.

“Saat itu An mengatakan kalau ada beberapa orang tamu yang datang ke rumah dinas membawa sejumlah berkas, mereka berasal dari Lombok Timur,” kata Anom yang memaparkan keterangan An.

Setelah melayani tamunya, dr Mawardi kemudian mengajak An pergi menengok rumah pribadinya yang berlokasi di Lingkungan Tinggar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

“Mereka pergi berdua, menggunakan sepeda motor,” ujar Anom yang pernah menjabat sebagai Wadir Ditreskrimsus Polda Jawa Timur itu.

Setibanya di rumah pribadi dr Mawardi, mereka berdua tanpa sengaja bertemu dengan Uc, seorang pria yang rumahnya berada tepat di seberang jalan rumah pribadi Direktur RSUD NTB itu.

“Dokter Mawardi dikatakannya sempat menyapa dan berbicara dengan Uc, yang saat itu sedang menggendong anaknya di depan rumah,” ucapnya.

Tidak lama kemudian, usai basa-basi dengan Uc, dr Mawardi mengajak An mengecek kondisi rumah pribadi yang belum sempat dihuninya. “Saat mengecek ke dalam rumah, dr Mawardi mengingatkan An untuk pulang sebelum Maghrib karena dia akan ada rapat,” kata Anom.

Setelah pulang kembali ke rumah dinas, An pun membantu menyiapkan segala keperluan dr Mawardi untuk menghadiri rapat yang tidak diketahui dengan siapa dan untuk urusan apa.

Usai melaksanakan shalat Maghrib, Mawardi yang sudah berpakaian rapi, lengkap dengan jas dan pecinya, keluar ke garasi, tempat kendaraan dinasnya parkir.

“Saat mau pergi, Mawardi ke luar rumah dan membuka garasi mobilnya sendiri, namun menutupnya kembali setelah mengetahui ada kendaraan roda empat warna hitam datang menjemputnya, menunggu di luar,” ujar Anom.

Mengetahui hal itu, Mawardi berpesan kepada An untuk tidak perlu mengantarnya rapat (dengan mobil dinas), karena sudah ada yang datang menjemput. Setelah menyampaikan pesan, dr Mawardi langsung bergegas meninggalkan rumah dinas.

Namun sayangnya, kata Anom, orang yang datang menjemput dr Mawardi menggunakan kendaraan roda empat warna hitam itu tidak diketahui identitasnya, dan hingga kini masih menjadi pertanyaan besar bagi polisi.

“Siapa dia, apakah benar dijemput menggunakan mobil warna hitam, An tidak mampu memastikannya, karena saat itu dia melihat dari kejauhan, dan penglihatannya terhalang pagar tembok depan yang cukup tinggi,” katanya.

Upaya Pencarian Karena tidak ingin “patah arang” mendengar keterangan An, pihak kepolisian terus berupaya melakukan pencarian dr Mawardi. Berangkat dari kesaksian An, tim pencarian mulai melakukan pengembangan penyelidikan.

Salah satunya dengan memintai keterangan Uc, seorang pria yang rumahnya tepat berada di seberang jalan rumah pribadi dr Mawardi. Uc merupakan salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Provinsi NTB.

Setelah mendengar pengakuan Uc, pihak kepolisian menemukan adanya perbedaan keterangan dengan kesaksian yang diperoleh dari An, petugas keamanan di rumah dinas Direktur RSUD Provinsi NTB itu.

Sehingga, kata Anom, untuk lebih memastikan sejauh mana keterlibatan Uc dengan hilangnya dr Mawardi, pihak kepolisian memeriksa kendaraan pribadi Uc, honda jazz warna silver.

“Pemeriksaan kendaraan pribadi Uc ini adalah bagian dari upaya kami mencari titik terang keberadaan dr Mawardi,” ucap pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya itu.

Untuk lebih memastikan hasilnya, Polda NTB pun meminta bantuan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Cabang Denpasar guna mengecek seluruh isi kendaraan pribadi Uc.

Namun dari hasil pemeriksaan Tim Labfor Cabang Denpasar pada Selasa (12/04/2016) di Mapolda NTB, tidak ditemukan benda yang menandakan bekas darah atau sidik jari milik dr Mawardi.

Selain itu, pihak kepolisian juga meminta bantuan Mabes Polri untuk kembali menguji kebenaran terkait keterangan yang sebelumnya telah disampaikan An dan Uc, dengan menggunakan alat “lie detector”.

Hasilnya pun, kata Anom, tidak ada yang melenceng dari pengujian alat “lie detector”. “Keterangan mereka semuanya benar, hanya ada salah penafsiran saat mereka bertemu dengan dr Mawardi,” ujar Anom.

Anom berkesimpulan bahwa keterangan mereka sama, hanya salah penafsiran hari saat bertemu dengan dr Mawardi. Karena dalam keterangan awal, Uc mengatakan bahwa dirinya terakhir bertemu dengan dr Mawardi pada Kamis (24/03/2016).

“Perbedaan keterangan inilah yang menjadi dasar kecurigaan kami, dan setelah dikonfrontir, hanya salah penafsiran hari saja,” katanya.

Keluarga sediakan Hadiah Setelah hampir sebulan berupaya melakukan pencarian, namun tak juga membuahkan hasil, agaknya mulai membuat resah pihak keluarga dr Mawardi.

Keresahan itu pun menimbulkan inisiatif pihak keluarga untuk menjanjikan hadiah uang tunai sebesar Rp200 juta bagi siapa pun yang berhasil menemukan dr Mawardi.

“Bagi siapa saja yang berhasil menemukannya akan mendapat ‘reward’ dalam bentuk uang tunai Rp200 juta,” kata Anom yang pernah menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya itu.

Harapannya, dengan hadiah itu, masyarakat dapat turut serta membantu pihak keluarga dan kepolisian mencari dr Mawardi.

[ad_2]

Comments
To Top