Opini

Ketahuilah Penyebab Maraknya Aksi Intoleransi & Anarkisme

7uplagi.com – Maraknya aksi-aksi terorisme seperti yang terjadi di Bom Thamrin tak lepas dari kurangnya perhatian publik terhadap dua hal. Yaitu sangat berkurangnya penyebaran nilai-nilai agama yang toleran serta lemahnya ideologisasi Pancasila.

“melihat dari kasus kekerasan dengan mengatas namakan agama itu ada dua substansi. Pertama adalah kurangnya perhatian dari mayoritas kelompok moderat pluralis dalam hal mengajarkan nilai-nilai Islam yang toleran, progressif dan damai. Sehingga sebagian kelompok kecil yang keras, anarkis dan radikal menguasai ruang publik, media dan bahkan masjid-masjid di kantor pemerintahan dan BUMN. Hal Kedua, sangat lemahnya ideologi Pancasila di tengah masyarakat dan program-program kementerian. Apabila kedua hal tersebut diabaikan maka janganlah kaget bila tindakan intoleransi dan anarkisme akan selalu muncul dan menghantui,” ujar Wakil Ketua Lembaga Dakwah NU Pusat yang juga merupakan Anggota DPR RI, KH Maman Imanulhaq di Jakarta.

Di sisi lain, Kiai Maman menekankan bahwa aksi cegah tumbuhnya terorisme di Indonesia tidak lepas dari keberaadaan generasi muda. Maklum generasi muda adalah sasaran utama masuknya paham radikalisme terorisme dalam hal membangun kekuatannya. Untuk selamatkan kaum generasi muda dari paham radikal terorisme, pemerintah harusnya tidak berhenti-hentinya menguatkan pemahaman ideologi Pancasila yang benar dalam semua program, baik kementerian dan lembaga terkait lainnya.

“Penguatan dan pemahaman ideologi Pancasila yang mutlak untuk mencegah paham radikalisme yang ingin meracuni generasi muda kita. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat kurikulum pendidikan yang berisi nilai keagamaan yang beradab dan sesuai dengan budaya Indonesia yang saling menghormati, toleran, dan damai. Seharusnya benar-benar diajarkan kepada generasi muda kita, disamping pemahaman agama Islam yang moderat,” ujarnya.

Merefleksi aksi terorisme seperti teror bom Thamrin, Kiai Maman menilai pengatasnamaan agama yang menjadi dasar aksi teror itu, mendorong timbulnya pemahamanan baru bahwa agama islam adalah agama yang keras, mengancam dan berbahaya bagi kehidupan. Fakta itu wajib dijadikan dasar pemerintah untuk melakukan antisipasi untuk meluruskan paham yang salah itu kepada masyarakat. Selain itu, masyarakat juga harus berperan aktif untuk membantu pemerintah melalui lembaga-lembaga terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pencegahan terorisme.

Hal ini sangatlah penting karena cepat atau lambat jika aksi terorisme, radikalisme, dan anarkisme atas nama agama tidak segera ditanggulangi dan diantisipasi oleh pemerintah dengan melibatkan Ormas Keagamaan dan masyarakat, pemahaman baru itu akan tertanam dalam benak pikiran masyarakat indonesia dan meluas menjadi gerakan yang membahayakan. Apalagi bila itu sudah merasuki pikiran dan jiwa generasi kaum muda Indonesia.

Kiai Maman yang juga penggagas Kaukus Pancasila di DPR RI meminta pemerintah menindak tegas siapapun yang menyebarkan dan mengajarkan intoleransi, kebencian dan kekerasan. Begitu pula penindakan tegas bagi siapapun, lembaga apapun atau ormas-ormas manapun yang menolak ideologi Pancasila harus segera ditangkap dan ditindak.

aparat-aparat juga harus melaporkan penyelesaian kasus kekerasan atas nama agama ini kepada publik secara terbuka. Itu untuk membuktikan, bahwa aparat-aparat tidak hanya berpihak pada kelompok minoritas tertentu yang bertindak atas nama golongan mayoritas Islam. Dukungan penuh harus diberikan kepada BNPT dengan berbagai program pencegahan terorisme melalui dialog baik itu di lembaga pendidikan, pondok pesantren, organisasi kepemudaan, dan lain-lain. Juga program kontra propaganda melalui program damai di dunia maya. Pasalnya, dunia maya telah menjadi alat untuk penyebar paham radikalisme dan terorisme untuk merekrut anggota baru.

Sebagai anggota DPR, Kiai Maman akan terus menerus mendorong revisi UU terorisme. Menurutnya, revisi itu mutlak harus dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Harapannya bila revisi UU terorisme sudah dilakukan, program pencegahan terorisme akan lebih berjalan.

“Bangsa Indonesia perlu bukti bahwa semua aparat pemerintahan dan warga bangsa Indonesia memang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan tidak hanya sekadar dijadikan slogan. Semua elemen harus bersatu, demi terciptanya kesatuan dan perdamaian NKRI yang hakiki,” pungkasnya.

Comments
To Top