Nasional

Sentralitas ASEAN dinilai terancam

[ad_1]

London (7uplagi.com) – Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Rizal Sukma,  mengatakan, perkembangan yang terjadi di kawan Asia Tenggara mempunyai potensi mempolarisasi hubungan antar negara ASEAN. 

Apabila ini terjadi, maka posisi ASEAN kemungkinkan akan termarjinalisasi, ujar Sukma, dalam peresmian South East Asia Forum, di London School of Economics and Political Science (LSE), di London, Jumat. 

Sudah cukup banyak tokoh penting Indonesia yang merupakan alumni LSE, di antaranya mantan Menteri Pendidikan Nasional sekaligus Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono. 

Sukma mengatakan apabila ASEAN terpolarisasi dan termarjinalisasi maka akan sulit bagi ASEAN untuk mempertahankan sentralitasnya dalam menjaga tata kelola hubungan antar negara di kawasan.

Dalam sesi utama yang dipandu Prof Danny Quah yang merupakan direktur Saw Swee Hock South East Asia Centre, LSE, Sukma yang juga lulusan LSE, memberikan paparan mengenai perubahan kekuatan di Asia Tenggara, regional order, dan posisi Indonesia.

“Saya melihat tiga karakter utama yang berkembang di Asia Tenggara dalam konstelasi hubungan antar negara adalah semakin kuatnya pengaruh RRT, keberadaan Amerika Serikat, dan persaingan antara RRT dan AS,” ujarnya.

Menurut dia, Tiongkok alias China dengan kekuatan ekonominya sangat berpengaruh pada ekonomi negara-neagara ASEAN. China yang terus memperkuat militernya juga menunjukkan keinginan negara komunis itu dapat diakui sebagai negara dengan kekuatan global.

Di sisi lain, Amerika Serikat sudah sejak lama mempunyai pengaruh yang kuat di kawasan dan untuk mengimbangi berkembangnya pengaruh China, Trans Pacific Partnership (TPP) merupakan salah satu instrumen yang digunakan Amerika Serikat.

Persaingan China dan Amerika Serikat di kawasan merupakan suatu kenyataan yang makin nyata karena keduanya ingin mempunyai akses seluas mungkin wilayah laut Indonesia.

Sebagai salah satu negara anggota dan pendiri ASEAN, Indonesia perlu memperkuat East Asia Summit sebagai forum yang mengakomodasi baik pendekatan realisme, normatif, dan institusional. 

Forum tersebut menghadirkan negara-negara besar dan semua pihak yang berpengaruh di kawasan seperti AS, China, India, Australia, Korea Selatan, dan New Zealand.

“Selain itu Indonesia akan terus menempatkan diri tidak hanya untuk kepentingan nasionalnya namun juga untuk turut berkontribusi menjaga stabilitas kawasan.” ujar Sukma.

Pada kesempatan itu peserta yang hadir meminta tanggapan dia terkait pandangan Indonesia terhadap inisiatif China mengenai One Belt One Road dan New Silk Road, peran Myanmar, posisi Indonesia dalam sengketa di Laut China Selatan, dan respon ASEAN atas persaingan AS dan China. 

Belakangan hubungan Indonesia dan China semakin mesra dan banyak proyek besar nasional melibatkan China sebagai bagian penting pelaksananya, di antaranya kereta api cepat Jakarta-Bandung yang pernah juga diminati Jepang. 

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2016

[ad_2]

Comments
To Top